“THANK YOU” Why not?

Thankyou2

Konon, hal paling hakiki yang membedakan kualitas komunitas manusia satu dengan komunitas lainnya adalah kebiasaan penghuninya mengucapkan kata terima kasih.
Pada komunitas yang lebih sering mengucapkan terima kasih, angka perkelahian lebih rendah dan usia rata-rata penduduk lebih tinggi, demikian sebaliknya.

Aura orang yang suka mengucapkan terima kasih, menurut orang bijak — umumnya sejuk dan menularkan kedamaian bagi orang-orang di dekatnya.

Kata terimakasih sangat singkat tapi memberikan efek yang sangat luar biasa. Ketika kita diminta oleh atasan kita menyelesaikan sebuah pekerjaan, kemudian kita dapat menyelesaikannya, dan atasan kita memberikan apresiasi atas pekerjaan kita, kemudian diakhiri dengan ucapan terimakasih, maka hati kita pun akan senang mendengarnya.

Begitu pun ketika anak disuruh ayahnya untuk membereskan tempat tidurnya, dan anak mengerjakan dengan caranya sendiri, kemudian sang ayah mengucapkan terimakasih, maka hati sang anak akan akan senang atas pekerjaan yang dilakukannya walaupun membereskannya tidak tuntas.

Dengan mengucapkan terimakasih, ternyata dapat membangun kepercayaan diri bagi orang yang mendengarnya. Begitupun sebaliknya jika pekerjaan kita tidak diapresiasi dengan kata terimakasih, maka sedikitnya telah “membunuh” kepercayaan diri seseorang.

Terkadang kita sangat berat untuk mengucapkan kata terimakasih, jika hal yang diinginkan kita tidak sesuai dengan harapan. Terkadang kita mencerca, memojokan, atau bahasa-bahasa kasar yang keluar dari mulut, padahal kita telah ditolongnya dengan sedemikian rupa.

Jika hal tersebut yang diterima, maka antipati adalah yang akan muncul dari hati orang yang kita maki. Dia tidak akan simpati dengan perlakuan kita seperti itu.

Oleh karena itu menyampikan apresiasi terhadap apa yang dilakukan seseorang dengan diakhiri kata ‘terimakasih’ adalah Aura untuk menularkan kedamaian bagi orang-orang di dekatnya.

Leave a Reply